Stage I
The Arrival
Seorang pria berjaket kulit merah gelap
tampak berjalan menyusuri ruang bidang putih tanpa batas. Mata biru navynya
menjelajah ke seluruh penjuru arah. Dengan teliti, ia memeriksa segala sesuatu
yang mungkin akan memuaskan rasa ingin tahunya.
"Hey!"
Fokusnya terpecah saat suara tanpa rupa
memasuki rongga telinganya tanpa permisi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari
asal suara tersebut.
"Di sini!"
Lelaki itu berhenti, menggerakkan
kepalanya ke arah asal suara yang berada di belakangnya. Benar saja, sesosok
makhluk berjas dengan kepala bantal lucu berwarna ungu tengah berdiri di
hadapannya. Tubuhnya setinggi anak kelas lima SD, tak lebih tak kurang.
Si gondrong flamboyan sedikit
terhenyak. Ia baru pertama kali melihat makhluk yang keanehannya melebihi
makhluk lain di semesta. Kewaspadaannya menurun seiring sorot matanya yang
mencoba mengajak bersahabat.
"Siapa kau, nak?"
"Namaku Ratu Huban, salam
kenal.." Tangan Ratu Huban terulur mencoba bersalaman.
Adam langsung menerima jabat tangan
Ratu Huban, "Adam Cainable, panggil saja Adam. Ngomong-ngomong di mana
ini?"
"Alam mimpi," jawab Ratu
Huban singkat.
"Alam mimpi?" Dahi Adam
mengerut. "Jadi semua ini hanya khayalan belaka."
Ratu Huban berjingkrak-jingkrak
mengelilingi tamu pertamanya sambil memutar tongkat berwarna pelangi miliknya.
"Bisa dibilang iya, bisa juga nggak. Dunia ini bukan ilusi, semua ini
nyata. Hanya saja tempat ini emang tercipta dari utopia semua makhluk.
Khayalan, impian, cita-cita, lamunan dan juga trauma. Makanya wujudnya suka
berubah-ubah."
"Pantas semuanya terlihat begitu
abstrak. Tadi berisi, sekarang malah kosong," ujar Adam.
"Gitu deh, namanya juga
mimpi." Logat Ratu Huban mulai terdengar seperti orang Betawi.
"Betewe, apa mimpimu?"
Adam terdiam seribu bahasa. Kepalanya
mendongak ke atas seolah mengamati sesuatu yang tak terlihat. Sorot matanya
terlihat sayu dengan kelopak matanya yang sedikit menyempit. Otaknya menjelajah
di memori yang telah berusia melebihi jagat.
"Aku ingin menjadi manusia,"
jawabnya polos.
"Bruakakakakakakakakakakak!!!"
Tawa Ratu Huban meledak begitu hebat.
Ia jatuh berguling-gulingan ke segala arah. Bahkan air mata muncrat dari dua
lubang di bantal ungunya. Ia memukul lantai berkali-kali seolah tak bisa
menahan sensitivias humornya yang meledak.
Sementara Adam hanya terdiam sambil
menatap kelakuan lebay si penghuni alam mimpi. Ia mencoba berpikir mimpi
keduanya yang terlihat konyol. Menjadi manusia? Sehina itukah?
"Aduh..auh. perut aye kram,"
Sang Makhluk Mimpi mulai mencoba berdiri sambil memegang perutnya. "Ente
kan sudah jadi manusia?"
"Ini hanya kulit."
"Eh?"
Adam mengangguk pelan. "Pada
dasarnya aku bukan dari kalangan manusia, Ratu Huban. Kau tahu? Berkelana ke
berbagai tempat di dunia fana ini. Melihat setiap kehidupan datang dan
pergi." Pandangannya kembali diarahkan ke atas. "Sampai dua
insan itu datang dari langit."
"Kau bicara tentang dua manusia
pertama yang diceritakan dalam literatur suci, kan?" tebak Ratu
Huban. Logatnya mulai normal.
"Yah, hanya darah dan daging yang
menyusun tubuh mereka. Tapi para manusia bisa melalui semua itu dengan hanya
mengandalkan akal dan kerja sama satu sama lain. Bukankah itu sangat indah?
Mereka sungguh membuatku iri."
Ratu Huban hanya manggut-manggut.
Perlahan ia mengerti kenapa makhluk berkulit manusia di hadapannya sangat
mengagumi ras yang ditakdirkan menjadi khalifah bumi oleh Yang Maha Kuasa.
"Sorry, tadi aku lupa bilang. Ada
aturan main di Alam Mimpi. Pertama, setiap jiwa yang mati di sini akan menjadi
bagian dari Alam Mimpi. Kedua, jika jiwa tersebut berstatus masih hidup di
semesta asalnya, maka ia harus menjalani tes untuk menunjukkan kualitas usaha
mewujudkan mimpinya," kata Ratu Huban berusaha menjelaskan.
"Tes?" Dahi Adam mengkerut.
Si bantal mengangguk. "Yup! Tesnya
akan disesuaikan dengan personalisasi setiap jiwa yang mampir ke Alam Mimpi.
Jika sampai mati, maka jiwa-ragamu akan menjadi serpihan Alam Mimpi."
Ratu Huban mengarahkan ujung tongkatnya
ke atas. Tiba-tiba benda kesayangan si Makhluk Mimpi itu menyemburkan sebuah
kembang api yang menyebarkan kelap-kelap berwarna-warni. Secara ajaib, sisa
cahaya kembang api itu berpusar menjadi portal dimensional berwujud pusaran
lubang hitam.
"Oi! Aku masih banyak per-"
Ucapan Adam terpotong saat tubuhnya
terhisap ke gerbang secara instan. Pada saat itu juga pusaran ciptaan perempuan
berkepala bantal itu menghilang usai melaksanakan tugasnya.
"Sekarang waktunya nonton
pertandingan," ucap Ratu Huban.
Stage II
Not Alone
"Sialan, makhluk itu langsung memindahkanku ke
sini."
Adam mendapati dirinya terbaring di
daratan imajiner yang terbuat dari bahan transparan. Lelaki itu mencoba berdiri
perlahan-lahan. Setelah berhasil memantapkan posisi kedua kakinya, ia
mengarahkan pandangannya ke atas.
Di atas sana, terlihat jutaan bintang
menggantung di langit. Bintang Epsilon Orionis bersinar biru cerah
selembut purnama di dunia nyata.
Langit berwarna biru agak gelap seperti
malam. Aurora menari-nari di langit mengikuti simfoni alam. Hujan meteor
meluncur menghiasi gemerlap semesta. Planet-planet beredar mengelilingi angkasa
raya dalam keteraturan. Begitu damai dan hangat seolah menggambarkan bahwa
tempat ini adalah nirwana.
Aku juga bisa bernafas di sini. Tempat
ini memang menakjubkan.
Sejenak Adam terbawa suasana, mengenang
masa lalu di semesta purba tempatnya berasal. Namun keasyikannya mendadak buyar
oleh satu kehadiran asing.
Ia mengedarkan pandangan matanya ke
segala arah. Mencari eksistensi yang cukup membuat instingnya terusik. Adam
mulai memasang sikap siaga penuh. Siapa tahu musuh langsung menyergap dari
belakang.
Dugaannya tepat. Saat ia menoleh,
terlihat dua sosok asing seukuran manusia turut hadir di dimensi Alam Mimpi.
Sesosok anak muda berjambul keriting
cokelat agak kurus. Berkulit sawo matang, pakai tuksedo hitam mewah. Di
dalamnya kemeja katun putih lengan panjang yang kancing paling atasnya
dibiarkan terbuka.
Satunya lagi adalah seorang wanita.
Didominasi warna biru, ia mengenakan rok mini, serta stocking hitam di kaki.
Untuk bajunya, wanita ini mengenakan kemeja berwarna biru muda dan memberikan
pelapis tambahan berupa jubah menggerai. Ukurannya cukup panjang, menjuntai
hingga sebatas betis.
Adam menatap penuh selidik. Mata
kanannya bereaksi memindai setiap inci subjek di hadapannya.
"Siapa kalian?"
Si keriting hanya berkacak pinggang.
Telunjuknya menuding tepat ke mata kanan Adam. "Gak sopan ngintip data
orang, Bang. Gue udah tahu sejak pertama lihat. Itu mata pasti kamera, kan?
Kayaknya dia udah mindai data kita, Nely!"
Kedua mata Adam melebar. Ia tersentak,
mengetahui lawan bicaranya bisa mengidentifikasikan perangkat yang terpasang di
rongga matanya dengan sekali lihat. Mata kanannya memang adalah lensa sensor
optik, tapi wujudnya yang terlihat persis dengan mata organik tak akan mudah dikenali
oleh orang asing.
Si kribo ini? Bisa membaca pikiranku,
rupanya..
"Kau benar, Fata." Mata si
perempuan berambut biru menatap penuh kebencian. "Apa dia musuh yang harus
dimusnahkan?"
"Gak salah lagi, Nel! Kata si
bantal, kita musti ngalahin cowok berambut panjang diiket, pake jaket merah,
bawa tas dan tongkat. Ni orang persis ama yang di gambarin Ratu Huban."
Dahi Adam mengernyit keheranan. Ia tak
habis pikir kenapa dua orang di hadapannya langsung pasang target tanpa alasan
jelas. Baru pertama bertemu, langsung dijadikan sasaran pembunuhan.
Batinnya mulai meragu akan
kepercayaannya selama ini. Untuk sekarang, ada dua manusia yang langsung
menargetkan nyawanya tanpa pikir panjang. Namun Adam masih menahan diri. Ia
sadar ada kemungkinan bahwa sepasang insan ini mungkin memiliki alasan kuat
untuk mengambil hidupnya.
"Apa salahku sehingga kalian ingin
menyerangku?"
Hening menyergap kedua orang tersebut.
Tak ada suara yang menjawab rasa ingin tahu Adam. Mereka berdua terdiam, tak
mengucap sepatah kata pun.
Tampaknya dua orang di depannya
mengalami situasi rumit. Terjebak di ranah yang sama dan terpaksa mengikuti
prosedur saling membunuh. Bisa saja si kepala bantal menculik jiwa mereka yang
terlelap untuk diadu satu sama lain.
Dua pemikiran yang menghasilkan satu
kesimpulan yang sama : menang dan kembali terbangun...
Atau kalah dan lenyap menjadi fragment
alam mimpi.
Adam menghela nafas panjang.
"Sudah kuduga, kalian sebenarnya sama denganku. Tampaknya realita di sini
memiliki regulasi yang cukup mengerikan. Mau bertarung sekarang? Atau
memikirkan solusi untuk keluar dengan selamat?"
"Ya," ucap wanita bernama
Nely dingin. "Cukup satu tarikan pelatuk untuk mengakhiri neraka
ini. Aku harus kembali demi Safira dan rakyatku."
"Wah, sekarang lu sadis juga,
Nel," tukas Fata terkekeh. "Kalo gue sampai kalah di sini, gimana
nasib anak bini gue nanti?!"
Rasa miris melanda jiwa Adam saat
menatap para manusia di hadapannya. Meski mendapat respon kurang mengenakan, kini
ia sudah mengerti apa yang menjadi motivasi dua lawannya untuk membunuh.
Kembali ke keluarga.
Sedangkan ia hidup sebatang kara
semenjak bermigrasi ke dunia ini. Tanpa kawan atau kerabat yang menemani
sepanjang perjalanan, sendirian menghadapi hidup yang panjang.
"Dua lawan satu.
Sepertinya aku yang dianggap monster di sini," ujar Adam sambil
mendongakkan kepala ke atas. Matanya menyempit seolah tengah menatap sesuatu
yang menyilaukan. "Ini sih terlalu besar buat satu tarikan pelatuk."
Sebuah satelit lengkap
dengan meriam raksasa di bagian bawah tengah melalukan proses pengisian energi
kosmik dan mengarahkannya tepat ke wajah Adam. Partikel-partikel
plasma mengumpul dan terus membesar di ujung moncong senjata, membentuk
akumulasi energi yang cukup menyilaukan mata .
Tanpa ampun, struktur raksasa mekanik
itu menembakkan larikan laser pemusnah, membentuk pilar cahaya vertikal ke
bawah. Ledakan yang ditimbulkannya menciptakan gelombang kejut yang melebar ke
arah galaksi-galaksi yang tengah melintas. Bongkahan-bongkahan asteroid dan
planet-planet kecil ke segala penjuru ikut terhempas dari garis edarnya,
menabrak satu sama lain. Debu nebula berarak menyelubungi seluruh area dalam
radius ribuan kilometer
Sementara itu, terlihat Nely dan Fata
tengah terselubungi perisai berwarna sihir hijau daun transparan.
Si rambut keriting mengawasi ke segala penjuru. Dengan mengandalkan pembagian
kesadarannya ke setiap benda berteknologi, seharusnya ia dengan mudah menemukan
Adam yang mata kanannya adalah organ bionik.
Sedangkan Nely langsung melenyapkan
perisainya setelah mengkonfirmasi ledakan telah mereda. Ekor matanya mengerling
ke sang partner.
"Pembukaanmu terlalu dahsyat,
Fata."
"Mau gimana lagi? Cepet beres
berarti cepet pulang," tukas si kribo.
"Tapi Tekno-Kreasimu tetap
mengagumkan. Menciptakan benda sebesar itu tanpa membuat lawan sadar, kau
memang masih licik seperti dulu," sahut Nely.
Fata menyilangkan tangan penuh
kesombongan. "Hahahahaha! Bukan Kribo Mantap kalo gak nglakuin ginian!
Tapi makasih juga buat perlindungannya, kalo ga ada Praesidio mungkin kita udah
game over."
"Jangan remehkan Ratu
Exiastgardsun, Fatanir! Seranganmu barusan tidak ada apa-apa bagiku."
"Jiah! Mentang-mentang udah punya
orok satu!"
Nely hanya tersenyum kecut.
Namun nalurinya kembali berteriak.
Logikanya yang sempat terlenakan oleh masa lalu kembali berjalan.
Instingnya mengatakan seolah-olah bahwa monster yang mereka bunuh belumlah
lenyap.
Jika memang Adam sudah mati, kenapa
mereka masih bertahan di dimensi ini?
Ada sesuatu yang aneh terdeteksi oleh
penglihatannya. Mata Nely bersinar kehijauan, meningkatkan indera visual ke
titik maksimal.
"Tidak ada?" gumamnya tak
percaya.
"Tunggu!" Fata baru menyadari
ada yang salah. Ia langsung menengok ke arah satelit pemusnah ciptaannya.
Dengan Teknophatianya, pemuda keriting itu mencoba mendeteksi apa yang terjadi.
Matanya melebar saat sebuah cahaya
berbentuk petir biru menjalar ke segala komponen yang menyusun satelit Fata.
Rahang si teknopath menegang sewaktu energi tersebut mengurai sebagian besar
komponen benda metalik tersebut menjadi jutaan kepingan logam yang lenyap
tertelan angkasa.
"Ya ampun! Tanpa alkimia dan
Cosmon, mungkin aku sudah mati."
Di dalam sisa-sisa reruntuhan logam
besar tersebut, terlihat Adam berjalan keluar dengan tubuh memancarkan aura
berwarna turqoise. Ia langsung meregangkan tubuh dengan santainya.
Kemudian Adam menatap ke
arah Fata, mencoba menerka apa saja yang dipikirkan si kribo satu ini.
Pandangannya masih terlihat teduh seolah tak memiliki ketakutan atau dendam
seperti kebanyakan orang setelah nyaris dibunuh.
[Tekno-Kreasi: Menyusun homing missile
drones.]
Meski tertutup kemejanya, Fata
merasakan roda gerigi emas yang berada di bagian dadanya berputar kencang.
Artefak neo sibernetik itu memproses data-data digital menjadi bentuk material
yang tersusun menjadi objek yang diinginkan.
Di sekeliling Sang Teknopath, puluhan
bola besi berukuran lima kali lipat bola basket bermunculan dari ketiadaan.
Ratusan misil muncul dari segala permukaan drone untuk siap diluncurkan kapan
saja.
"Mampusin si gondrong!"
Bola-bola besi itu langsung memuntahkan
peluru-peluru misil tanpa jeda. Ratusan amunisi peledak skala planet meluncur
dalam skala besar dan langsung menukik ke target.
Adam yang melihat hujan rudal tengah
mengepungnya langsung bertindak. Alih-alih menghindar, ia justru melompat lurus
ke seluruh misil yang berkelok tajam menuju ke arahnya. Tongkat yang
dipegangnya berubah menjadi tombak dengan ujung melengkung.
Lelaki itu melesat secepat cahaya. Aura
yang melambarinya kini menyembur ke belakang seperti mesin jet. Ia langsung
mengayunkan tombaknya yang teraliri energi kosmik ke arah hujan logam pemusnah
dengan sekali hentakan.
Ratusan sabit cahaya raksasa meluncur
deras dari sabetan tombak Pranarium. Dalam sekejap, serangan Adam membelah
semua rudal kendali milik Fata menjadi dua. Rangkaian ledakan menggelegar
saling bersahutan, mengguncangkan tata surya.
Adam masih terus bergerak gesit.
Tubuhnya meliuk-liuk di antara batuan bekas pecahan asteroid yang terkena
ledakan rudal.
Nely langung mengambil giliran
menyerang.
"Iovis Tempestas Fuluriens!"
Tangan ibu muda tersebut teracung ke
depan. Sebuah pusaran angin bercampur petir tercipta dan berputar-putar ganas
menyerbu lurus ke depan. Dalam waktu sepersekian detik, angin halilintar
tersebut melahap objek-objek antariksa berukuran gigantik dengan intensitas
gila-gilaan.
Sesaat sebelum badai guntur itu
menelannya, Adam langsung bergerak menghindar ke atas dalam kecepatan melebihi
cahaya. ia telah melompati banyak planet-planet sebagai batu pijakan dengan
gerakan akrobatik. Sesekali ia melirik ke belakang untuk memastikan ular
tornado tersebut tak sempat mencaplok tubuhnya.
"Kau pikir bisa lolos dari badai
petirku?"
Wanita penyihir itu tak kehabisan akal.
Seolah memiliki pemikiran tersendiri, angin bermuatan listrik tersebut bergerak
liar mengikuti pelarian sang target sesuai perintah melalui gerak jari Nely.
Sementara itu, Adam masih sibuk bermain
kejar-kejaran dengan bencana elemental ciptaan Nely. Badai petir tersebut telah
menghancurkan planet-planet yang kebetulan melintas di jalurnya tanpa henti
seolah menganggap benda langit yang menghalanginya hanyalah kerikil semata.
Akhirnya lelaki itu berhasil mendarat
di permukaan asteroid besar yang kebetulan bergerak menjauhi guntur angkasa
tersebut. Ia berbalik ke arah datangnya serangan sambil memasang sikap
bertahan. Tongkat yang ia pegang diposisikan secara horisontal. Matanya menatap
nyalang seolah pusaran maut itu hanya seekor cacing belaka.
"Kau pikir aku lari-larian hanya
untuk bermain?" balas Adam.
Adam langsung menarik nafas teratur.
Respirasi paru-parunya memompa aliran energi ke seluruh tubuh. Kekuatan
setiap tarikan dan hembusan nafas yang dilakukan Adam jauh di atas manusia
bahkan atlit atau tentara sekalipun. Kecepatan yang bisa dicapai si alkemi pada
setiap proses pernafasannya adalah seperti...
Komet
Tubuhnya berpendar biru laut akibat
aliran aura yang menyerbu melalui alat pernafasannya. Tidak seperti saat Adam
baru keluar dari satelit, selubung biru berkilauan yang menyelubunginya lebih
menggelora bagaikan gelombang pasang.
Kekuatan kosmiknya telah bersinergi
dengan seluruh sel tubuh Adam.
"Ayo, majulah! Cosmonku atau badai
petirmu, Nona!" Adam berseru menantang sang pembawa kematian.
Ia memutar tongkatnya dengan arah yang
berlawanan dengan tornado Nely. Ujung batang logam panjang yang sempat teraliri
energi angkasa milik Adam berpendar membentuk cincin saat bergerak dalam
kecepatan tinggi.
Di saat yang sama, teknik tornado luar
angkasa milik Nely berhasil menjangkau posisi Adam, menghantam telak tepat di
atas raga. Sihir bencana level kosmik itu juga turut mengikis tempat Adam
berpijak secara liar. Debu angkasa beterbangan ke semua arah memblokir
pandangan.
"Hmmm..." Sang Dark Mage
menyunggingkan senyum melihat bencana ciptaannya melahap habis mangsanya.
Tiba-tiba pusaran petir Nely
melambat akibat kehilangan sebagian momentum gaya. Kecepatannya terus bergerak
menurun ke titik nol seperti ada yang berusaha mengurangi kelajuannya
semaksimal mungkin.
Nely terkesiap. Ia langsung menfokuskan
titik pandangnya ke lokasi terakhir sihir pusaran anginnya menghilang.
Yah, dengan menggunakan gerak memutar
secara berlawanan, Adam tengah berusaha menetralkan pusaran guntur dengan
menggunakan putaran tongkat berkekuatan kosmik. Dua gerak berpusar secara
berkebalikan akan saling menghantam dengan gaya sama besar sehingga menciptakan
aksi-reaksi yang bersifat nol.
Sementara itu, Nely hanya bisa ternganga
saat melihat apa yang terjadi tepat di depan mata kepalanya sendiri. Ia tak
mengira jika ada makhluk yang memiliki kekuatan untuk menghentikan bencana itu
sendiri.
Dan bencana itu lenyap tanpa bekas,
memperlihatkan Adam dengan kondisi pakaian tercabik-cabik akibat ribuan sayatan
tajam yang dilahirkan oleh tornado tersebut.
"Captus Flammeus!"
pekik Nely.
Tiba-tiba Adam merasakan ada hawa panas
yang berputar-putar. Ketika Nely mengerahkan tangan kanan ke arah pengguna
Cosmon tersebut, sebuah pusaran api tercipta dari ketiadaan menjulang tinggi ke
angkasa. Dinding apinya terlapisi aliran Manna mengurung mangsa.
"Percuma saja, Nona!"
Adam mencoba menjebol kurungan berapi
tersebut dengan tombak perak yang teraliri Cosmon. Namun ujung bilahnya seperti
membentur sesuatu yang sangat keras.
"Penghalang sihir?!"
Belum habis keterkejutan Adam, ia
seperti merasakan ada objek yang tengah bergerak secepat kilat.
[Tekno-Kreasi : Shockwave Gauntlet!]
Di saat itu juga, Fata langsung melesat
dalam kecepatan dewa dari atas. Tangannya tertutupi armor logam tak dikenal
mengacung lurus ke Adam. Mesin pendorong di lengannya memancarkan cahaya merah
menyala, meningkatkan kelajuan serta daya hancur serangan Sang Teknopath.
Lengan si kribo terdorong keras bak
meteor yang siap menghantam bumi.
Adam tak mau kalah. Tombak yang
dipegangnya terurai menjadi serbuk logam dan kembali mewujud menjadi gauntlet
di tangan kanannya. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya
kuat-kuat, mengkonsentrasikan kekuatan ke satu titik untuk menyambut kedatangan
Fata.
Cahaya biru laut meletus dari
gauntletnya. Menciptakan gaya serupa dengan Fata. Tangan Adam teracung ke atas
dengan booster yang menyalak-nyalak.
Dalam satu momen bersamaan, kedua tinju
logam saling beradu menciptakan gelombang dahsyat. Seluruh bagian tata surya
yang kebetulan melintas mulai berguncang seperti kapal yang terombang-ambing
oleh badai. Para hewan penghuni masing-masing planet berteriak keras seperti
merasakan adanya bencana yang datang dari angkasa.
Bahkan barrier api yang dilepaskan
Nely lenyap seketika.
Tinju mereka masih menempel satu sama
lain. Ada sedikit retak yang menjalar ke seluruh bagian lengan logam Fata.
Sedangkan gauntlet milik Adam tak mengalami kerusakan sedikitpun. Komposisi
logam yang solid serta mampu beregenerasi membuatnya berhasil bertahan dari
serangan dahsyat barusan.
Hanya saja Adam merasakan ada yang tak
beres di bahunya. Wajahnya sedikit meringis menahan sakit. Meskipun demikian,
ia mengabaikan rasa nyeri dan beralih menatap Fata.
"Ho.. langsung mengambil serangan
fisik, yah? Kau berani juga, Anak Muda!" puji Adam.
"Cih! Musuh kaya elo emang cocok
diladeni pake berantem satu-lawan-satu. Gue cuman pengen ngetes hasil latihan
aja, Bang," sahut Fata seraya menatap remeh.
Seumur hidupnya, ia tak pernah
sekalipun langsung mengambil serangan jarak dekat. Entah apa yang di pikiran si
kribo sehingga ia mengambil tindakan di luar kebiasaannya. Yang jelas,
kepribadian si pemilik rambut afro seperti mengalami sedikit perubahan.
Namun bukan Fata namanya jika tak main
curang.
Bibir si kribo terangkat, mengukir
senyum licik.
"Ashura!"
[Tekno-kreasi : Tremor Gauntlet]
Suara digital kembali bergema saat
gerigi emas kembali berotasi sesuai perintah Fata. Rumus-rumus emas berputar
mengelilingi lengan logamnya, merekonstruksi bagian-bagian menjadi bentuk model
silinder lengkap dengan pegas pendorong.
Insting Adam langsung bekerja. Ia
langsung melompat mundur sejauh mungkin, menjauhi Fata yang masih dalam tahap
rekonstruksi. Mata melebar seperti melihat ada sesuatu yang berbahaya pada
musuhnya.
Sementara Fatanir
mengetatkan giginya, urat-urat lehernya mengencang. Bagian turbin di lengan
metaliknya berputar memompa tenaga. Merasa daya outputnya mencapai batas
maksimal, pemilik Ashura tersebut mengerahkan pukulannya tepat ke arah dada
Adam dari jarak yang tak mungkin terjangkau tangan manusia.
Tiba-tiba tubuh Adam
terlempar jauh ke belakang. Ia terus melesat jauh menuju ke sebuah satelit alam
seolah ada meteorit yang baru saja menabraknya.
"Uaaarrrggg!!!"
Adam berteriak kesakitan.
Semua tulang rusuknya terasa membengkok ke dalam seperti tertubruk sesuatu yang
dahsyat. Tubuhnya bergetar nyeri, sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Fata langsung bergerak
mengambil kesempatan. Ia mereka-ulang gauntletnya menjadi senjata rifle dengan
proyektil elektro magnetik. Dengan tenang, ia menarik pelatuk dan menahannya
hingga kekuatan pelurunya berada di ambang batas.
Sementara Adam yang
terpojok langsung mengambil langkah seribu. Ia berlari di udara menuju ke orbit
bebatuan asteroid yang rapat.
Si Teknopath menilik
pergerakan Adam. Ingin segera menyelesaikan pertarungan, Fata mengarahkan ujung
laras riflenya dengan bantuan program pengunci target otomatis. Proses re-charge
peluru pengacau magnetik sedang berjalan di kisaran enam puluh sembilan persen.
Namun Fata terlalu fokus
dengan mangsanya. Ia melupakan pertahanan di sekelilingnya.
Sebuah asteroid berukuran planet Mars
tengah bergerak menuju ke arah si penembak dari belakang atas. Batuan-batuan
angkasa yang lebih kecil darinya melebur menjadi kerikil kecil saat terkena
oleh material raksasa yang melewatinya. Sisa-sisa serpihan mineral antariksa
langsung terdorong ke arah Fata seperti hujan.
Si keriting mengumpat, "Asu!
Kenapa pake asteroid maen ganggu segala?! Terpaksa dah!"
Nely terbang mendekat, "Kita
gunakan serangan jarak jauh!"
"Oke, Nel!"
Nely langsung tangannya tinggi-tinggi.
Partikel listrik bermunculan di telapak, membentuk sebuah tombak raksasa
berornamen khas mitologi Nordik. Gabungan angin dan petir menyelubunginya
seperti puting beliung yang siap membombardir segalanya dan tidak pernah gagal
menusuk jantung lawannya sekali dilepaskan.
"Gungnir!"
Nely langsung melepaskan tombak
legendaris tepat ke pusat asteroid. Bersamaan dengan terlontarnya Gungnir, Fata
langsung menarik pelatuk dan memuntahkan proyektil elektromagnetik.
Dalam tempo singkat, serangan gabungan
mereka berhasil menghantam batu besar tersebut. Retak-retak warna bermunculan,
menurunkan tingkat kepadatan asteroid yang tergolong sangat rapat. Kemudian
peluru Fata yang telah berhasil masuk ke dalam menyebarkan partikel elektronnya
ke segala arah.
Riak gelombang mulai meruntuhkan
susunan batu besar tersebut dan meledakkan benda tersebut hingga menjadi
milyaran kerikil yang terpencar ke segala sudut angkasa. Ribuan garis cahaya
mengukir langit, memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
"Untung! Badan kita nyaris jadi rempeyek
kalo sampe kena!"
"Kuh.. tanpa Gungnir, mustahil kau
bisa menghancurkan batu besar itu," sahut Nely ketus.
"Gitu aja sombong! Betewe jadi
inget pas Battle of Realms, wokwokwokwokwok!"
Raut muka Nely mendadak judes begitu
kata itu terdengar. Ia langsung membuang muka, tak sudi berucap kata. Si kribo
hanya mendesah panjang, mengingat masa lalu sendirian.
"Ah, baru ingat! Dia kan masih
trauma gara-gara dibuntingin pas ronde ketiga," gumam Fata
Belum sempat ingin melepas nafas lega
usai lolos dari maut, Teknopathianya kembali menjerit di dalam otak. Seluruh
inderanya mendeteksi sesuatu yang datang dari bekas ledakan tersebut.
"Astaga naga!"
Saat mata Sang Penguasa Teknologi
menoleh ke arah yang dimaksud, Adam tengah meluncur dari balik batuan asteroid
yang telah hancur. Kedua tangannya mengenggam senjatanya yang kini berubah
menjadi tongkat baseball yang terlumuri cahaya biru langit. Seluruh sel
tubuhnya bergetar saat dia memusatkan energi untuk meningkatkan daya
penghancuran di atas batas maksimal.
Keringat dingin Fata mengalir saat
informasi yang ia terima dari tongkat Adam mampir ke dalam kepalanya. Sel-sel
otaknya bekerja lebih cepat begitu ia mengetahui kepalanya yang akan jadi
sasaran.
Tiba-tiba Nely menghadang tepat di
depannya. Kedua tangannya terbentang menciptakan perisai lapis ganda.
Konsentrasi energinya jauh melebihi saat ia menggunakan tameng tersebut saat
Fata melakukan serangan pembukaan.
Tak lama kemudian, sabetan tongkat
baseball ciptaan Adam berpendar meninggalkan garis lengkung indah seperti
pelangi, menghantam tameng absolut penyihir tersebut dengan kekuatan gaya
sejuta newton yang terpusat di satu titik.
Terjadi benturan dengan sangat telak di
atas penghalang transparan, menciptakan kilatan cahaya putih yang nyaris
membutakan mata. Tak ayal, tubuh Fata dan Nely terpental ke arah bulan dengan
kelajuan abnormal seperti bola yang terpukul jauh keluar dari gelanggang.
Goblok! Ntu om malah dapat homerun!
Sial, malah kita yang jadi kayak gini! rutuk Fata dalam hati.
Dengan cepat, Fata menciptakan
pelindung tak terlihat di bagian belakang. Sementara Nely masih berkutat
mempertahankan Praesidio. Beberapa kali dua manusia itu menabrak gerombolan
kerikil raksasa yang kebetulan merintangi jalur lintasannya. Permukaan solid
ciptaan pemuda keriting tersebut mulai retak, tak kuasa menanggung daya
benturan.
Akhirnya tubuh mereka
menghantam permukaan bulan. Ledakan hebat tercipta bergema ke seantero
jagat, meninggalkan sebuah kawah raksasa yang tercipta. Sebagian besar
mineral penyusun bulan terlempar ke angkasa akibat kuatnya gaya potensial
gravitasi di luar nalar.
Sementara itu, perisai gabungan Fata
dan Nely masih terus menembus ke bagian inti. Tubuh mereka terbentur berberapa
kali hingga terhenti di sebuah area bawah tanah. Berulang kali mereka
terpelanting menubruk dinding tanah hingga terpelanting di atas lapisan mineral
yang membungkus secara langsung bagian terdalam dari bulan itu sendiri.
"Urrrgghhh..."
Si kribo tampan terkapar lemas tak
berdaya. Beberapa tulangnya terasa seperti hendak pecah. Namun kesadarannya
masih stabil akibat mekanisme darurat yang terinstal di tubuhnya sejak lama. Ia
lalu bangkit dan mencoba mengecek keadaan sekitar.
"!"
Mata Fata terbelalak saat melihat Nely
terbaring tak sadarkan diri. Lensa kontak Fata berpendar, memindai struktur
tubuh perempuan setengah Annunaki.
[Sepertinya pria itu sengaja menahan
diri, Fata.]
Fata langsung mendelik marah, "Loe
tahu apa, Ashura?!"
[Maaf, tapi musuh kita terlihat sengaja
menunggu temanmu membuat perisai, Fata. Kau tahu sendiri kan, kecepatan
aktivasi rangkaian sihir Sanelia tergolong agak lambat. Jika lelaki itu mau,
pasti kepalamu sudah kena hantam duluan sampai tewas.]
"Cih! Ceritanya dia mau ngremehin
kita semua, gitu?"
[Entahlah, tapi sepertinya dia ada
rencana tersendiri. Apa kau masih ingat aturan yang disampaikan Ratu Huban?]
"Gue inget kok! Makanya gue pengen
bunuh ntu bajingan!"
[Tapi bagaimana dengan Nely? Bukankah
hanya ada satu pemenang yang berhak keluar?]
'Arrgghhh, udah! Sekarang kita lakukan
operasi ke tubuh gue dulu!"
[Baik...]
Fata langsung berbaring di atas tanah.
Gerigi itu pun berputar menciptakan mesin-mesin medis berukuran nano di bagian
dalam tubuh majikannya untuk melakukan prosedur pemulihan.
Menambah kecepatan penyembuhan lebih
jauh, Fata memfokuskan untuk menambal bagian tulang yang retak. Mesin-mesin itu
juga melakukan penyambungan otot yang tersobek akibat serangan Adam. Tangannya
memegang kepala, membantu mempertahankan kesadaran yang hampir menghilang.
Akhirnya, Fata kembali ke kondisinya
semula. Perlahan ia bangkit dari pembaringannya di lapis ketujuh di bawah
tanah. Matanya memandang penuh dendam ke langit seperti iblis yang dibuang dari
surga.
"Menganalisis data lawan!"
[Prosedur pemindaian data target
diaktifkan!]
Lensa kontaknya kembali berpendar
kekuningan. Fata terdiam membisu dengan kepala masih menengadah. Semua hasil
input data diunduh ke dalam Ashura dan diunggah ke otak kirinya dengan
kecepatan data di level terabyte. Beberapa kali ia mengangguk seolah
seperti mengerti akan informasi yang masuk.
[Adam Cainable. Umur tak terhitung. Ras
tak bisa diidentifikasi. Pengalaman tempur di atas rata-rata. Keagresifan, ada
peluang peningkatan tajam di situasi darurat.]
Akhirnya si pengendali teknologi telah
mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan. Matanya kembali terpejam,
memproses peralatan yang sekiranya akan mampu menghadapi Adam.
[Tekno-kreasi : Black Golden Titanium's
Warrior Armor]
Tangan Fata teracung ke depan,
menciptakan rumus-rumus konstruksi unik yang menyimpan informasi pembuatan
teknologi. Mengikuti perintah sang tuan, Ashura kembali berputar
mematerialisasi bahan berupa logam hitam emas.
Dengan telaten, Fata menyusun satu
persatu setiap komponen yang muncul dari imajinasi. Jemarinya menari-nari
indah, memasang perangkat demi perangkat..
Sebuah zirah legendaris telah tercipta.
Warna hitam yang tegas berpadu harmonis dengan garis emas yang mengukir pola
surgawi di sekujur bagian. Satu-persatu, komponen baju perang tersebut bergerak
dan memasang secara otomatis di badan Fata sesuai bagiannya.
Usai memakai perlengkapan perang,
tatapan Fata tertuju ke arah Nely yang masih tak sadarkan diri. Matanya
terlihat menyempit, menyimpan sedikit rasa sungkan.
"Sori, Nel. Kayaknya loe mesti
jadi baterai gue."
Kemudian tangan pemuda itu terarah ke
rekannya yang pingsan, menciptakan sebuah gelembung yang membungkus raga
tersebut dan terkompres hingga seukuran bola kristal seukuran kelereng.
Bola itu pun melayang masuk ke dalam jiwa Fata.
"Waktunya mengamuk,
Ashura..."
[Aku mengerti keinginanmu, Fata!]
Stage III
Revenge of Fallen Angel
Sementara itu, Adam masih berdiri
mengambang di tengah kekosongan angkasa yang tak berakhir. Matanya masih
mengarah ke bulan tempat Fata jatuh. Raut wajahnya terlihat sendu,
memperlihatkan keprihatinan yang mendalam.
<Kau tak menyembuhkan cederamu?
Rusuk sama sendi bahumu perlu diperbaiki, tuh.>
Suara digital khas gadis kecil
terdengar dari arloji yang melingkari tangan kanan Adam. Lampu indikator
berwarna hijau menyala berkelap-kelip, menandakan ada sebuah kehidupan yang
tergugah. Sebuah program kecerdasan buatan baru saja terbangun dari tidur
lelapnya.
Sementara, lelaki itu masih diam
mematung.
"Eve, kenapa kau baru
bangun?"
<Ada sedikit pembersihan di memori.
Jadi untuk beberapa saat, aku tidak bisa aktif. Ngomong-ngomong, tubuh
manusiamu mulai rusak. Apa tidak apa-apa kau tetap membiarkannya seperti itu?>
"Tak apa, semua ini sudah
kurencanakan sejak awal."
<Heeeh.... masih ingin membuangnya,
kah? Sepertinya kau sengaja mempercepat kerusakan tubuh manusiamu. Apa kau
ingin melepas semua kekuatan itu?>
Arlojinya berpendar, seolah
mengekspresikan rasa penasaran. Ia sudah tahu keinginan tuannya sejak lama.
Hanya saja, Adam masih belum menemukan tempat yang tepat untuk melakukan hal
tersebut.
Keinginan itulah yang membuat pengelana
satu ini bersusah payah untuk mendatangi dimensi yang hanya bisa didatangi
dengan bermimpi. Sebuah tempat yang cocok untuk menyembunyikan sesuatu yang
tabu bagi para makhluk dunia fana.
Itulah yang selama ini dicari Adam
sepanjang hidupnya.
Adam mengangkat lengannya seraya
memandang penunjuk waktunya. "Kau sudah tahu, kan?"
<Aku tahu! Aku kan terlahir dari
rusukmu, kan? >
"Sebagaimana mereka berdua,"
sahut Adam.
<Kau masih saja membicarakan dua
manusia itu!>
"Sudah, sudah! Sekarang bisakah
kau memonitor objek di bawah sana?"
<Baik! Baik!>
Eve langsung mengambil alih kontrol
alat optik milik Adam. Kamera bionik yang menggantikan mata kanan tuannya kini
bergerak menyesuaikan jarak pandang. Penginderaannya terus melacak, menembus ke
dalam lapisan bulan tempat Fata terkapar.
<Adam, tunggu! Gelombang macam apa
ini?>
Pancaran kuning tipis-tipis keluar dari
rekahan bekas jatuhnya Fatanir, semakin meluas dan bertambah terang. Kemudian
bulan tersebut sekonyong-konyong mengkerut. Lonjakan daya misterius terdeteksi
oleh sensor Eve, terus meningkat ke titik di mana programnya tak sanggup
mengukur besaran yang didapat.
Adam tak bisa berkata apa-apa.
Tangannya menggengam tongkat lebih erat. Ia memicingkan matanya sambil memasang
sikap tempur. Terlihat tetesan keringat dingin mengalir dari dahinya.
Tiba-tiba bulan itu pun
terbelah dua, dari pusat retakan keluarlah sosok yang sangat berbeda. Sesosok
pria berzirah hitam keemasan! Tiga pasang sayap hitam dan sepasang mata putih
dengan kilatan berwarna gelap membuatnya terlihat seperti perwujudan kematian
itu sendiri.
Rambut afro panjangnya
berkilauan, menyebarkan partikel cahaya ke segala arah. Ukuran sayapnya
membentang menambah kesan majestik pada wujud tersebut.
Dialah Fatashura. Gabungan
dari Fatanir dan Ashura yang menciptakan pembawa petaka bagi seluruh ciptaan
Tuhan di alam fana.
"Luar.... biasa"
ucap Adam terpana, seolah terpesona oleh kedigdayaan entitas di hadapannya.
Seakan memberi salam
perkenalan, Sang Malaikat Maut mengepakkan semua sayapnya. Jutaan bola kuning
raksasa melesat ke segala arah. Saat hujan bola api tersebut mengenai gugusan
planet, ledakan bertubi-tubi pun tercipta. Alam Mimpi pun menjadi terang
benderang oleh rentetan bola cahaya yang menyinari seluruh galaksi.
Dalam waktu sekejap, tata
surya berubah menjadi ruang kosong tanpa sisa. Dan Sang Pembawa Kiamat ini
mengepakan sayap, menari-nari di atasnya.
Stage IV
Rise of Ancient Being
Pertarungan sudah berganti posisi. Adam
merasa sudah tak dapat lagi menggunakan kekuatannya yang sekarang pada Fata
yang sedang bercahaya. Transformasinya membuat dirinya dan
peluru—laser—yang keluar dari sayapnya dapat melebur apapun.
Sangat tak adil memang, tapi itulah
sesungguhnya kekuatan yang diperlukan dalam perang.
Untuk itulah, sebuah kartu as sangat
penting dalam setiap pertempuran. Senjata pamungkas yang kadang meminta bayaran
yang setimpal dengan apa yang didapat penggunanya. Sebagai alkemis, Adam tahu
akan hal itu
Sudah waktunya, Eve...
<Kembali ke asal-muasal kita,
Adam...>
Satu untuk semua... Semua kembali ke
satu...
Si penggemar manusia menengadah ke
angkasa. Tongkatnya melebur membentuk lingkaran transmutasi dengan pola
octogram. Sang alkemis masuk menapak angkasa, melangkahi lingkaran tersebut.
Matanya terpejam seolah pasrah dengan konsekuensi yang ada.
Setelah berada di atas rumus
ciptaannya, kedua tangan Adam bertepuk layaknya orang berdoa. Sebuah sensasi
tak terbayangkan mulai menjalar ke seluruh tubuh. Memorinya kembali melayang ke
masa-masa kejayaannya sebagai eksistensi tak terkalahkan dalam semesta kuno.
Lingkaran transmutasi pun mengeluarkan
cahaya guntur yang menggelegar. Jagat raya terasa seperti bergoyang, menyambut
kelahiran sang dewa yang ingin membuang segala bentuk kesempurnaan yang
dimilikinya.
Bahkan Fatashura yang sempat
bersenang-senang mulai tertegun saat menyaksikan peristiwa langka tersebut. Ia
terdiam dengan raut muka tak sabar menantikan perubahan sang calon rival.
Ke wujud lama yang sesungguhnya.
Tubuh Adam terpecah oleh tangan-tangan
mungil bercahaya yang muncul dari segala arah. Perlahan namun pasti, raga manusia
miliknya terurai sempurna dan menghilang dari realita. Menyisakan sebuah bola
cahaya berwarna biru perak yang memancarkan hawa kehidupan luar biasa.
Dalam memori Adam, benda itu memiliki
sebuah nama yang menggambarkan puncak dari kesempurnaan itu sendiri.
Heart of Eden.
Kemudian dari artefak tersebut,
keluarlah beberapa garis yang menjalin satu sama lain, membentuk sebuah
gambaran baru akan konsep kesempurnaan makhluk hidup. Larik-larik berwarna
putih menyusun satu persatu bagian tubuh hingga Heart of Eden tertutup
sempurna.
Dan sebuah perwujudan baru telah lahir
ke dimensi khayalan. Sosok berwujud humanoid dengan tubuh jasmani yang terbuat
dari logam mulia yang tak akan ditemukan di dunia manapun. Rambut putih panjang
berkibar ke segala arah meningkatkan kesan keanggunan. Mata putih bersih tanpa
pupil menggambarkan kekosongan tanpa batas.
Bayondra
Ras makhluk kuno terkuat dalam sejarah
multi dimensi dengan kekuatan yang sanggup meluluhlantakan dunia. Eksistensi
mengerikan yang bahkan membuat Adam membenci darah yang mengalir dalam tubuhnya
sendiri sehingga memiliki keinginan kuat untuk membuangnya jauh-jauh.
Namun untuk menghadapi makhluk seperti
Fatashura, dibutuhkan sebuah kekuatan yang setara atau bahkan lebih. Demi hal
itulah, Adam terpaksa melanggar prinsipnya sendiri.
Menyaksikan perubahan musuhnya yang
terkesan superior, hati Fatashura mulai dipenuhi oleh sesuatu. Tapi bukan rasa
takut atau benci. Itu adalah rasa seperti nafsu saat melihat musuh yang mampu
meladeni keinginan untuk menghancurkan segala sesuatu.
Kemudian Adam menoleh ke arah
Fatashura. Mata putih pekatnya memandang tenang. Si Teknopath pun terbang
merendah, mendekati Si Bayondra.
Kedua sosok itu berdiri berhadapan,
terpisah dalam jarak puluhan kilometer di relung angkasa. Keenam sayap
Fatashura memancarkan kelap-kelip sinar keemasan. Jutaan bintang meredup seolah
takut akan kebesaran Sang Malaikat Kematian.
Sedangkan aura milik Adam bercahaya
penuh ketenangan. Fatashura bisa melihat dengan jelas, sosok itu terlihat begitu
simpel namun menyimpan milyaran misteri tak terpecahkan. Makhluk yang
seolah-olah berada di luar ranah logika dunia itu sendiri.
Adam pun berjalan maju.
Langkah-langkahnya menapaki permukaan lajur angkasa. Loncatan listrik
bermunculan dari punggungnya, terhubung ke setiap planet dan bintang-bintang
yang tergantung di langit.
Seketika itu juga, setiap planet
merekonstrusi kandungan mineral yang mereka miliki menjadi energi murni. Simbol
khusus terukir dan mengalirkan daya kehidupan planet tersebut ke Adam.
Dan tangan Si Bayondra memancarkan
simbol alkemi ke depan, memberi komando pada setiap objek yang terhubung dalam
pikirannya. Planet dan bintang yang terkoneksi dengan Adam melepas jutaan
energi plasma berbentuk tinju berkekuatan lima juta triliun newton hingga
samudera tata surya tak kuasa menahan hingga bergolak hebat.
Fatashura berseru sambil mengepakan
sayapnya menjauhi Adam. Namun betapa terkejutnya ia ketika hujan pukulan
alien kuno itu mengejarnya dalam formasi terkonsentrasi. Beberapa lempeng
sistem solar yang tengah berotasi tertumbuk hebat hingga hancur berantakan.
Si Malaikat Teknopath meliuk-liuk
dengan kecepatan kosmik. Sementara itu seluruh kepalan pemusnah langsung
berbelok tajam ke arahnya. Beberapa pukulan antariksa berhasil melipat jarak
dengan Fata, langsung menghantam setiap inci tubuh dengan telak.
Namun Sang Pewaris Kreasi berhasil
menyingkirkan semua serangan beruntun tersebut dengan sekali kibasan sayap yang
memancarkan aura pelebur. Adam mendengus kesal melihat gaya serangan Fata yang
terkesan seperti main cheat. Ia pun langsung melesat melebihi kilat.
Sambil terus berlari di udara, tubuhnya
berbelok diagonal mengacungkan jari-jari yang terkepal. Gumpalan altana
menyelubungi tangan Adam, bersiap menghabisi nyawa Sang Raja Teknologi.
Dalam sekejap, Adam berhasil memotong
jarak dengan Fatashura. Makhluk itu mengayunkan pukulannya dengan output energi
setingkat lebih tinggi dari yang biasanya. Aurora putih dari rambutnya berkobar
hebat.
Tinju itu langsung meretakkan ruang
antariksa itu sendiri. Berbagai entitias kehidupan di Alam Mimpi gemetaran
ketika serangan Adam meremukkan tembok dimensi di hadapannya.
Tak ayal, Fatashura yang terhantam
langsung terpental dalam kecepatan cahaya. Di tengah kejatuhannya, ia kembali
menciptakan ribuan drone dan menembakkan ribuan laser penghancur berskala
planet ke arah Adam. Milyaran garis cahaya terlukis cantik di angkasa,
meledakkan berbagai benda langit tanpa kesulitan.
Namun Adam seakan menatap serangan
Fatashura seperti air hujan semata. Bukannya menghindar, kedua lengannya
teracung agak condong ke belakang. Ruang dimensional terlihat membengkok
seperti dicengkeram kuat oleh Adam.
Kemudian Bayondra itu melemparkan
sepasang tangannya ke arah Faatashur. Bersamaan itu pula, ribuan gugus bintang,
asteroid dan planet bergerak menyerbu bak bola yang dilemparkan kiper.
Tangan sang dewa menyeret antariksa!
Stage V
Piece of Soul
Hujan larik laser menghancurleburkan
seluruh bagian galaksi yang baru saja dilempar Adam. Ledakan demi ledakan
saling menyambung menghancurkan gendang telinga siapa saja yang nekat untuk
mendengarnya. Reaksi berantai itu terus terjadi hingga satu objek terakhir,
menyisakan hanya dua makhluk dengan kemampuan berpotensi menimbulkan akhir
dunia.
Tak ada kata, tak ada pembicaraan hanya
untuk sekedar intermezzo sesaat. Pandangan mereka saling beradu bagaikan dua
pistol yang tak ragu untuk saling memusnahkan.
Kedua monster itu kembali melesat
membelah dimensi khayalan. Gemerlap lautan bintang di alam raya berpijar lebih
terang, menjadi saksi pertikaian para iblis angkasa. Tubuh mereka berdua
menghilang dari persepsi visual, tapi bersamaan dengan itu timbullah cahaya
petir mengguntur yang menandakan manuver serangan mereka tengah bertabrakan
dalam kontak fisik.
Ledakan demi ledakan seakan mengiringi
lesatan dua makhluk yang bahkan tak akan terjangkau oleh mata manusia. Tubuh
Adam dan Fatashura mendesing beradu diselingi tinju mereka berbenturan dalam
dentuman maut. Bahkan suara yang bergaung dari pertempuran tersebut seolah
jebol melewati batas realita.
Tiba-tiba intensitas konfrontasi fisik
tingkat kosmik tersebut berhenti mendadak. Tubuh Fata terhempas. Adam melayang
mundur ke belakang sambil memasang posisi bertahan.
"Kau masih tak mau mengerti,
yah?"
Untuk pertama kalinya dalam sejarah di
dunia ini, mulut Adam terucap saat berwujud Bayondra. Suaranya terkesan lebih
mendalam dari biasanya.
Dan dia melihat sosok lawannya. Sosok
berzirah hitam dengan tiga pasang sayap. Pemuda itu masih menggengam erat
tinjunya. Hawa membunuhnya menyeruak dan mengental hanya untuk satu tujuan.
Fatashura tak lagi berkata. Ia kembali
melaju dalam ledakan energi tanpa batas. Taburan berjuta warna mengisi runtuhan
semesta yang memecah indah saat tubuh Sang Teknopath menuju satu titik target
absolut.
Si Bayondra mengetatkan konsentrasi
kekuatannya di tangan kanannya. Adam kembali menendang udara, berlari secepat
cahaya menyongsong rival dengan serangan tapak terbuka. Sementara Fatashura
telah terselimut cahaya hitam keemasan. Sorot matanya bersiap meladeni setiap
jurus lawan.
Dua setan langit kembali bertubrukan.
Partikel udara meledak terkena jejakan tapak kaki emas dan biru. Tatapan mereka
berkilat-kilat, penuh hasrat membaja untuk meraih kemenangan.
Fatashura membentuk cambuk api listrik
di tangannya. Ayunannya sangat ganas, membakar hangus setiap objek langit yang
kebetulan mendekat. Lecutannya menghasil bunga api raksasa yang sanggup
meledakkan matahari sekalipun.Rentetan dentum serangan bergema di udara dan
menjalar ke semua arah dalam ruang tanpa batas.
Namun setiap serangannya bernilai
nihil di mata Adam. Ia berkelit dengan gerakan akrobatik dengan kecepatan
yang menakjubkan. Semua cambukan pemilik relik Ashura berakhir menyambar setiap
asteroid yang berada di belakang Adam.
Gagal menyerang, Si Teknopath
mengembangkan sayap lalu terbang meninggi di antara laju galaksi yang beredar
tanpa henti. Dengan cepat, Fatashura menciptakan rentang jarak yang berjauhan
dengan Adam. Ia ingin membombardir Adam dengan serangan jarak jauh.
Tiba-tiba ia kembali terseret ke bawah.
Sebuah momen gaya luar biasa menariknya hingga jatuh ke bawah. Saat lajunya
terhenti, Fatashura langsung menoleh ke belakang.
Terlihat Adam tengah menempelkan tangan
seolah tengah memusatkan seluruh kekuatannya dalam satu titik. Si afro tak
mengerti apa yang baru saja terjadi. Ia hanya menatap nanar seakan waktu tengah
berjalan lambat. Ingatannya melayang ke waktu pasukan dronennya menembakan
garis cahaya pemusnah ke arah galaksi yang dilempar Adam.
"Begitu, ya?"
Akhirnya ia baru mengerti.
Adam baru saja memperpendek jarak
dengan melipat dimensi seperti menarik taplak meja.
Memanfaatkan kelengahan Fatashura,
kening Adam berpendar. Cahayanya memenuhi setiap sudut medan pertarungan.
Membawa mereka berdua ke jurang kematian.
Dalam sekejap Adam dan Fatashura telah
berada dalam genangan air dengan volume tak terdefinisi, mereka semakin
tenggelam seakan permukaan air itu terus meninggi. Adam sudah siap dengan
segala pertaruhannya.
"—Mereka yang sudah membulatkan
tekad, melempar tubuh ke dalam laut yang dalam hingga mereka kehabisan
jiwa," ucap Adam.
Pada dasarnya, lautan imaji ciptaan
Adam adalah suatu bentuk manifestasi dari kematian. Air yang di dalamnya akan
memangsa energi kehidupan setiap makhluk yang memasukinya hingga meregang
nyawa. Tak peduli pengguna atau lawan, entah bakteri atau dewa, semuanya akan
habis terhisap.
Namun Adam yang sempat mencuri altana
dari setiap planet saat bertarung melawan Fatashura memiliki keunggulan di atas
kertas. Cadangan nyawa di tubuhnya mampu membuat lelaki itu bertahan hidup
hingga musuh tewas duluan.
Kemampuan Adam inilah yang membuatnya
memiliki rentang usia yang tak masuk akal bagi dewa sekalipun. Dua puluh dua
milyar tahun telah dilaluinya sebagai Bayondra. Namun setelah berjumpa dengan
dua manusia pertama di bumi, pemikiran berubah.
Ia ingin hidup sebagai makhluk normal
yang memperjuangkan impian di atas ketidaksempurnaan.
Namun Heart of Eden yang dimilikinya
sebagai Bayondra akan membuat siapapun akan tergoda untuk memiikinya. Oleh
karena itu, ia rela datang ke Alam Mimpi demi membuang identitasnya. Demi
menyegel artefak berbahaya yang berpotensi merusak keseimbangan realita.
Fatashura terus tenggelam seakan
gravitasi dalam air meningkat hingga berkali lipat ganda. Sayap-sayap sucinya
terus mengepak, mencoba membawa dirinya ke atas permukaan, tapi dia tetap
semakin tenggelam ke dalam lubang kenestapaan.
"Ughhhh..."
Luka yang ada di tubuh Fatashura terus mengalirkan darah emas segar, mencemar kebeningan air di sekelilingnya, energi di sekitar tubuhnya terasa semakin meredup.
Luka yang ada di tubuh Fatashura terus mengalirkan darah emas segar, mencemar kebeningan air di sekelilingnya, energi di sekitar tubuhnya terasa semakin meredup.
"Mana mungkin…" Batinnya
marah. "Sekeras apa pun aku mengepakkan sayap, aku cuma semakin jauh dari
permukaan...!"
"Yah, jelas...," sahut Adam.
Entah bagaimana caranya. Tapi Adam
dapat berbicara dalam air dengan lancar. Fatashurapun terlihat dapat
mendengarnya dengan jelas. Mungkin ini bisa terjadi karena mereka berada dalam
dunia ciptaan milik Adam. Yah, apapun itu, mereka pokoknya bisa berbicara di
sana~
"Kita yang melempar diri masuk ke dalam lautan dimensional terlambat kalau mau mengepakkan sayap, tapi aku mengerti kenapa kau begitu," lanjut Adam. "Kalau kata orang, saat kau masuk ke dalam air dingin, niat hidupmu menurun seiring dengan suhu tubuhmu."
"Kita yang melempar diri masuk ke dalam lautan dimensional terlambat kalau mau mengepakkan sayap, tapi aku mengerti kenapa kau begitu," lanjut Adam. "Kalau kata orang, saat kau masuk ke dalam air dingin, niat hidupmu menurun seiring dengan suhu tubuhmu."
"Tapi itu kedengaran egois sekali,
memalukan juga ada batasnya—"
Sebuah suara perempuan terdengar dari
belakang Adam. Sebuah bayangan tiba-tiba muncul dari belakang Adam. Bayangan
itu berubah menjadi sosok perempuan yang kemudian memeluk Adam dari belakang.
Bibirnya yang tipis tersenyum tipis pada Adam.
"Pria yang membuat janji tapi tak
menepatinya dan perempuan yang tak bisa melupakan cintanya, begitu, 'kan."
Wanita itu mendekatkan mulutnya ke arah telinga Adam, dia menurunkan sedikit
nada bicaranya. "—Raja Bayondra..."
"Sudah lama tak melihatmu dalam wujud seperti itu, Eve." Adam balas menyapa.
Begitu panggilan akrab Adam untuk sang
belahan jiwa. Yah, dialah Eve yang dulunya adalah kecerdasan buatan yang
bersemayam di arloji Adam. Wanita yang tercipta dari rusuk Bayondra yang tak
sudi mengakui rasnya sendiri. Namun aura dan penampakan fisiknya sangat dewasa.
Berbeda dengan Eve dalam mode AI yang terkesan kekanak-kanakan.
Mereka terlihat seperti pasangan
kekasih yang baru saja bersua.
Namun ekspresi Eve berubah sendu.
"Ayolah! Jangan dingin
begitu," ucap Adam.
Eve melepaskan pelukan tangannya, dia
melompat sedikit menjauh dari Adam, matanya terlihat mengembun saat melihat
tubuh Adam yang kembali ke asal semula.
"Oh lihat,..." Ucapnya dengan
nada sedikit menyindir. "Beginilah jadinya kalau kau melanggar
pantanganmu, menjijikan sekali..."
"Kau jahat sekali seperti
biasanya."
"Mungkin. Tapi aku masih bagian
dari jiwamu..." Jawab Eve dengan nada sedikit pelan. "Aku sudah biasa
dengan sikapmu yang seenak-enaknya."
"Dan sudah bersumpah menemaniku
sampai akhir, 'kan?" sambung Adam.
"Ngomong sama siapa
kau...!!!" teriak Fatashura terdengar begitu keras walau berada dalam air.
Jelas sekali dia merasa marah karena merasa diabaikan begitu. Dia tak dapat melihat Eve, tentu saja. Eve adalah bagian dari jiwa Adam, personalita yang terlahir ketika Adam menyegel kekuatan Bayondra ke dalam Heart of Eden.
Jelas sekali dia merasa marah karena merasa diabaikan begitu. Dia tak dapat melihat Eve, tentu saja. Eve adalah bagian dari jiwa Adam, personalita yang terlahir ketika Adam menyegel kekuatan Bayondra ke dalam Heart of Eden.
"Kau pikir kau sudah menang?"
hardik Fatashura. "Kau pikir kau bisa membunuhku? Seakan-akan dunia
murahan ini cukup untuk membunuhku!!!"
Adam menatap nyalang ke arah Fatashura.
Tangannya berpendar, terlihat dengan jelas nyala Energi di jari Adam yang tak
begitu terang. Fatashura juga bergerak, sayapnya mengepak dengan cepat ke arah
Adam. Agaknya dia berubah pikiran, dia lebih memilih menyerang Adam dari pada
mengepakkan sayapnya mencari permukaan air itu.
"Betapa kejamnya kehidupan abadi
yang bercahaya di ujungnya adalah benang putih yang menandakan penyesalan.
Paling tidak, yang bisa kulakukan adalah memutus benang itu..." ucap Adam
seolah sedang melafalkan mantera kematian. "Penyesalan menyakitkan yang
mengelilingi dirimu, Inilah akhirnya—"
Jemari Adam bergerak seakan dia bisa
mengendalikan air. Energi tipis bagai benang mengggumpal mengelilingi leher
Fatashura. Adam melompat, mengumpulan semua kekuatan yang masih tersisa dalam
tubuhnya. Benang energi itu langsung menjerat leher Fatashura.
"Selamat tinggal di kehidupan selanjutnya!"
"Selamat tinggal di kehidupan selanjutnya!"
Seketika Leher Fatashura terpotong, benang kosmik biru terbentang menyayat leher sang Teknopath. Tidak, tidak hanya itu, kepala Fatashura berpendar, kepalanya hancur meledakkan gumpalan yang tercerai. Tubuh tak berkepala itu jatuh menyusuri kegelapan relung nestapa.
Adam yang juga sudah tak punya sisa
kekuatan untuk menahan efek lautan pemakan nyawa, tak bisa menahan dirinya
dirinya. Energi tubuhnya yang terkuras hebat tak bisa menampung beban tubuhnya
sendiri. Sang Bayondra itu pun jatuh tak berdaya.
Sebuah tangan menghampiri, mendekap
tubuh lelaki yang sudah tak berdaya. Mata Eve terlihat begitu sayu, sifat
ketusnya seakan sirna hanya menyisakan rasa pilu tersirat di matanya.
"Tak kuduga bisa tidur di atas
pangkuanmu..." gumam Adam bercanda. "Sesekali memakai kekuatan
Bayondra, bagus juga ya?"
Rasa kasihan Eve hilang, tangannya
langsung mencoba untuk menusuk mata Adam, beruntung Adam masih punya kekuatan
untuk menghindar.
"Cuma bercanda,..." ucap Adam
"Hmph... kita jadi kelihatan
mirip... dan sama-sama aneh." gumam Eve. "Tapi paling tidak... kita
menang."
"Oh? Ada apa ini?" Balas
Adam. "Kau kalem sekali hari ini—"
"Oh, diamlah!" tegas Eve.
"Lebih baik kita pergi dari sini."
Adam terdiam, bahkan untuk menyela
ucapan Eve dia sudah tak mampu. Ia benar-benar sudah kehabisan kekuatan.
"Kau sudah melawannya sekuat
tenaga." Eve kembali membujuknya. "Walaupun kau telah menyalahi
prinsipmu sendiri, tak ada yang akan menyalahkanmu—"
"Aku mengerti. Bisakah kau
melakukannya untukku?"
Sang belahan jiwa hanya mengangguk.
"Ayo, tutuplah matamu. Biar kuambil alih semua yang kau ingin buang dari
sini dan kita akan pergi... bersama-sama..."
Adam memejamkan matanya perlahan.
Tangan Eve mendekap Adam dari belakang. Perlahan mereka berdua tenggelam dalam
bayangan.
"Kita akan memulai hidup baru,
Sayang."
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar